RANGKAIAN ADAT PERNIKAHAN SUKU SASAK; MANDIQ BEKAWIN

Gambar: prosesi mandiq bekawin dalam adat pernikahan Sasak

Lenek Pesiraman – Mandiq bekawin merupakan salah satu rangkaian pernikahan dalam adat Lombok, juga merupakan acara penutup dari serangkaian acara pernikahan yang digelar secara adat. Acara ini merupakan ritual sakral yang digelar setelah pasangan pengantin telah dinyatakan sah sebagai suami istri, diakui oleh agama maupun negara.

Meski masa ini ritual adat mandiq bekawin ini sudah mulai sering tidak diselenggarakan oleh pihak keluarga pengantin, akan tetapi masih belum sepenuhnya dilupakan dalam penyelenggaraan acara pernikahan. Secara harfiah, istilah mandiq bekawin berasal dari kata mandiq yang artinya mandi, dan bekawin yang artinya kawin. Sehingga istilah mandiq bekawin ini diartikan pengantin yang mandi (membersihkan diri) di hari pernikahannya.

Penyelenggaraan mandiq bekawin ini dilakukan dengan cara kedua mempelai duduk berdampingan diatas lamak (alas) dari tikar dan kain (dapat berbentuk sarung), lalu kedua mempelai disiram oleh pemandiq (orang yang memandikan pengantin). Dalam ritual ini, mempelai pengantin disiram oleh pemandiq yang terdiri dari keluarga mempelai pria, keluarga mempelai wanita, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat dan hadirin yang berkenan, yang menyiram kedua mempelai secara bergilir.

Bahan-bahan mandiq bekawin ini terdiri dari beboreh, lelanger dan mesui. Untuk kelengkapan bahan, air yang digunakan untuk siraman pengantin ini biasanya berupa air kembang. Bahan beboreh digunakan untuk meluluri bagian kepala dan wajah kedua mempelai yang mandiq bekawin, lengan dan kaki. Bahan-bahan beboreh ini dibuat dari inan kunyit (bagian pangkal umbi kunyit yang sangat tua), serta beras yang ditumbuk kasar menjadi satu. Selain itu, ada lelanger, yaitu bahan yang digunakan sebagai bahan pembersih rambut pengantin, yang terbuat dari campuran otak nyiur (bagian atas buah kelapa tepat di bagian bawah melekatnya tangkai buah) dan lekong (kemiri). Lelanger ini dilumuri di bagian rambut kedua mempelai sebelum disiram dengan air kembang. Sementara mesui adalah bahan yang digunakan sebagai apus setelah prosesi mandiq bekawin selesai.

Tonton prosesi lengkap adat mandiq bekawin dalam video di bawah ini!

Selama prosesi mandiq bekawini ini, hadirin yang menyaksikan akan mengiringi dengan bacaan shalawat dari awal prosesi hingga akhir. Hadirin yang menyaksikan prosesi mandiq bekawin ini biasanya adalah keluaraga kedua mempelai, kerabat dekat dan warga sekitar.

Di akhir penyelenggaraan mandiq bekawin, pengantin biasanya akan melakukan “sebar koin” dan nenarseq. Nenarseq adalah kegiatan pengantin menyiram para hadirin yang menyaksikan prosesi, sementara sebar koin menyebarkan pundi-pundi uang koin yang diperuntukkan bagi hadirin, terutama anak-anak yang menonton berlangsungnya prosesi. Kedua hal ini bukan merupakan rangkaian prosesi mandiq bekawin, tetapi hanya bentuk ungkapan kebahagiaan pengantin atas selesainya semua rangkaian penyelenggaraan pernikahan. Bahkan dalam pandangan adat yang lebih kental, acara nenarseq ini tidak dianjurkan, karena dipandang kurang etis bagi mempelai.

Makna filosofis mandiq bekawin ini adalah membersihkan diri, menyucikan jiwa dan raga sebagai pasangan suami istri yang baru menikah. Sehingga ketika menjadi suami dan istri, pasangan pengantin telah benar-benar lepas dari tubuh dan hasrat jiwa kotor yang dibawa dari masa-masa sebelum pernikahan mereka, agar suami dan istri dapat menjalankan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing dalam keluarga baru dalam keadaan yang benar-benar bersih. (lenekpesiraman/Riada)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.