(Mitos) ISTRI HAMIL, SUAMI TAK BOLEH POTONG RAMBUT?

Lenek Pesiraman – Ada satu mitos yang hingga saat ini masih dipercaya secara turun temurun di beberapa daerah di Lombok, termasuk Desa Lenek. Tentu sebagian besar masyarakat Lombok, khususnya warga Desa Lenek, sering mendengar mitos  bahwa seorang suami yang istrinya sedang mengandung si buah hati tidak boleh mencukur rambutnya. Selama 9 bulan, sejak kehamilan istri terdeteksi hingga bayi terlahir, rambut sang suami dibiarkan menggondrong dan sama sekali tidak boleh dicukur atau sekedar dipotong.

Ada banyak versi mengenai dampak potong rambut bagi suami yang istrinya sedang hamil. Versi yang paling umum dan paling banyak dipercaya di masyarakat adalah; jika suami memotong rambut, maka istrinya akan mengalami penyakit gatal-gatal pada perutnya. Apa hubungannya?! Ya, logisnya hal itu sama sekali tidak berkaitan. Tetapi nyatanya, budaya tidak potong rambut bagi suami yang istrinya hamil masih berlaku hingga kini, terutama pada kehamilan yang pertama.

Sebagian besar masyarakat masa kini tentu tidak percaya pada mitos dan takhayyul semacam itu. Hanya saja mungkin karena cinta dan kasih sayang yang besar kepada istri dan buah hati, para lelaki tidak akan mau menggambil risiko sekecil apa pun terhadap kehamilan istrinya, meskipun itu hanya berupa penyakit gatal-gatal. Meskipun itu mitos, tidak rugi juga untuk diamalkan bukan?

Tapi tahukah anda bahwa sebenarnya ada makna yang sangat mendalam yang terdapat dalam tradisi suami tidak boleh potong rambut tersebut? Sebagian besar orang mungkin tidak pernah menduga, bahwa orang-orang zaman dahulu, nenek moyang kita sebenarnya memperhatikan detil setiap hal, bahkan hingga bagian terdalam aspek psikologis manusia.

Tidak hanya sekedar mitos, tidak bolehnya seorang suami bercukur atau memotong rambut sejatinya untuk menjaga kesehatan psikis sang istri. Umumnya, seorang istri yang sedang hamil perasaannya akan menjadi sangat sensitif, ia selalu merasa dirinya buruk rupa dan banyak cela. Sementara seorang pria yang baru saja memotong rambutnya, sudah barang tentu akan terlihat lebih tampan. Bagaimana jika melihat hal itu sang istri merasa minder? Bagaimana jika istri berpikir yang bukan-bukan? Berpikir bahwa suaminya selingkuh? Karena seorang pria yang sedang jatuh cinta umumnya akan berusaha terlihat tampan dan rapi. Timbulnya pikiran-pikiran buruk tersebut dan prasangka negatif lainnya dalam diri istri, tentu akan berdampak stress, dan tentu saja juga akan berpengaruh pada kondisi kehamilannya.

Untuk itulah, seorang suami dianjurkan untuk bergondrong ria selama 9 bulan 10 hari, hingga lahirnya si buah hati. Tujuannya tidak lain adalah untuk menjaga kesehatan jiwa istri tercintanya. Seorang suami pastinya tidak ingin istri dan buah hatinya kenapa-kenapa hanya gara-gara si istri stress memikirkan hal yang bukan-bukan. Jadi, mengamalkan tradisi berbau mitos tidak masalah, bukan?

Nah, lalu bagaiman tradisi tersebut berkembang menjadi mitos di masyarakat? Entahlah! Barangkali di zaman nenek moyang kita dahulu, ada seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya;

“Kenapa Amaq (Ayah) tidak pernah mencukur rambut?”

“Kan, Inaq-mu (Ibumu) sedang hamil, Nak. Amaqtidak boleh potong rambut.”

“Kenapa begitu?”

Karena sang Ayah tidak mau berpikir panjang, maka akhirnya dia menjawab; “Nanti perut Inaq-mu gatal-gatal.”

Akhir cerita, si anaklah yang menyebarkan mitos tersebut. Wakakakk… (*sedikit humor)

(lenekpesiraman/Riada)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.